Translate

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 22 April 2012

Lukisan Wajah

:: cerpen ini memperoleh Juara 3 Lomba Cipta Cerpen IPB Art Festival
Ilustrasi


Ini sudah hari ke lima aku hanya termenung dalam ruangan yang biasa aku gunakan untuk memainkan jemariku meliuk-liuk di atas kanvas. Biasanya, pagi-pagi begini aku masuk, sore harinya aku telah keluar dengan tangan dan baju berlumuran cat air beserta sebuah senyum kemenangan. Senyum puas karena aku berhasil mengukir sebuah lukisan. Yah, lukisan yang kemudian akan menjadi penghuni galeri-galeri di kota ini. Tentu tak sulit untuk sebuah lukisan yang kuciptakan terjual dalam sebuah pameran, kau tahu itu.

            “Namamu sudah besar, siapa yang tidak bisa melihat keindahan tiap goresan dalam lukisanmu? Lukisanmu seolah mampu berbicara tentang dirinya sendiri. Wajar jika pengagum karyamu ada di mana-mana,” ujarmu sore itu ketika kau menemuiku di beranda rumah.

            “Apa kau tidak cemburu dengan pengagum-pengagumku itu?” Aku sedikit menggodamu, membiarkan mataku menikmati garis-garis bibirmu yang khas setiap kali kau merasa cemburu. Kau tidak akan pernah mengatakan ‘iya’. Aku tahu itu. Kau hanya akan menatap ke dalam bola mataku seolah mencari keyakinan ucapanku di sana. Setiap hal itu terjadi, aku tak bisa menatapmu. Aku akan membuang pandanganku ke arah lain. Seperti kali itu, aku hanya menunduk. Menatap jari-jari kakiku yang terkena tumpahan cat.

Sabtu, 10 Maret 2012

UANG PINJAMAN


                   Sore itu kudengar sayup-sayup dari balik dinding kamar suara ibu penuh kekesalan pada ayah.
                “Kalau kita sendiri hidupnya pas-pasan, kenapa harus sok sosial, Pak?” Begitu kata ibu bergetar. Bisa kubayangkan ayahku waktu itu mungkin hanya menunduk, mencoba menyabarkan diri.
                “Kita butuh uang yang tidak sedikit bulan ini. Anak-anak mesti bayar uang sekolah, belum lagi utang buku mereka yang sudah menungggak,” tambah Ibuku lagi.
                “Sabar, Buk. Pak Anto, temanku itu benar-benar butuh uang. Katanya kemarin ibunya datang dari kampung minta uang untuk berobat ayahnya yang stroke.” Ayah mulai bicara. Suaranya tenang, mencoba meredam kekesalan Ibu.
                “Percayalah, Buk. Dengan menolong orang suatu saat nanti kita juga akan ditolong oleh Allah. Lagipula kita masih bisa berhemat. Utang buku anak-anak kita bayar setengahnya saja dulu. Insya Allah kalau sudah dapat rezeki lebih, Bapak bakal lunasi.”

Kamis, 23 Februari 2012

1, 2, 3

David pratama


1,2,3…
Sudah 64 tahun saja Indonesia Raya
Merdeka
Dari ranjau koloni Belanda
Begitu pula Soekarno-Hatta
Memproklamirkan hakekat pancasila

Senin, 31 Oktober 2011

Senapan Kopak, Sang Ibu Si Laras Panjang


Jika kini kita mendengar senjata api dengan nama sniper, shotgun, airsoftgun, Avtomat Kalashnikova 47, M4A1, MP 5 Navy, dan sejenis senjata api lainnya yang menggunakan teknologi tinggi, tapi dahulu di abad ke 15 sampai dengan 17 beberapa Negara Eropa menggunkan senjata api yang tak kalah canggih di masa itu. Namanya senjata kopak atau disebut juga arquebus (kadang dibaca harquebus atau hackbut). Senapaan kopak merupakan “ibu” dari senapan bedil dan berbagai senjata laras panjang lainnya.

Selasa, 15 Februari 2011

Candu Becak


Setiap sore, setelah mandi, aku selalu berdiri di persimpangan kecil dekat rumahku. Aku tidak sendiri. Aku ditemani oleh sepupuku. Di sana ada sebuah pendakian yang kemiringannya cukup melelahkan untuk dilewati. Biasanya orang-orang yang mengendarai becak akan turun dari becaknya dan mendorong becak itu sampai jalan datar. Setelah jalannya datar beberapa meter, ada lagi sebuah penurunan yang cukup panjang.
            Di penurunan itulah letak sebuah kesenangan bagiku. Aku akan meloncat ke atasnya, kemudian turut turun di penurunan yang bagi kami berdua cukup menggerakkan adrenaline.
            Biasanya, hal ini sangat kami nikmati. Setelah penurunan, pengemudi becak akan berkata, “Sudah selesai. Sekarang kalian turun.”
            Dengan manis kami akan meloncat turun dan membalas, “Terima kasih, Pak. Besok numpang lagi, ya!”

Senin, 06 September 2010

Jemari yang Hilang

Siang itu, setelah bangun dari tidur yang cukup lama, aku terkejut melihat jari kelingking di tangan kananku lenyap. Lebih mengherankan lagi tidak ada bekas luka atau darah sedikitpun. Tak ada rasa nyeri. Aku perhatikan dengan seksama bagian yang dulu pernah didiami oleh jari kelingkingku itu. Aneh. Bagian itu terputus rapi seolah dipotong dengan teknik tingkat tinggi.

Jumat, 23 April 2010

Diknas Berbicara Masalah Bimbel



Sekolah sebagai sebuah wadah pembelajaran dan pendidikan, kini  seolah kurang memberi asupan yang cukup kepada peserta didik. Hal itu dapat kita lihat dengan semakin banyaknya pelajar yang ikut dalam program Bimbingan Belajar (Bimbel). Bimbel di kota Padang sendiri sekarang ini bisa dikatakan telah menjadi pusaran yang cukup besar dan banyak para pelajar yang menenggelamkan diri ke dalamnya. Kenapa hal ini terjadi ? Salah satu penyebabnya adalah kekurangpuasan pelajar dengan materi yang ia pelajari di sekolah.  Bahkan, Apfryyadi, siswa SMA 10 Padang menuturkan bahwa salah satu alasannya ikut bimbel yakini guna mengejar pelajaran yang kurang dimengerti di sekolah.

Menyikapi hal ini, Bapak Bambang Sutrisno selaku Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang menyampaikan kekecewaannya. Menurut beliau, keikutsertaan pelajar dalam program bimbel kurang efisien mengingat biaya yang dikeluarkan untuk bimbel jauh lebih besar daripada biaya sekolah. Ketika ditanyai mengenai langkah apa yang bisa dijadikan solusi untuk permasalah siswa yang merasa kurang mengerti palajaran sekolah, beliau menyampaikan bahwa ini bias diubah dengan mengubah pula mindset pelajar itu sendiri. “Banyak pelajar yang kurang menghormati guru, itu bias menjadi salah satu penyebab kurang berhasilnya proses belajar mengajar di sekolah,” kata beliau.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites