:: cerpen ini memperoleh Juara 3 Lomba Cipta Cerpen IPB Art Festival
![]() |
| Ilustrasi |
Ini sudah hari ke lima aku hanya
termenung dalam ruangan yang biasa aku gunakan untuk memainkan jemariku
meliuk-liuk di atas kanvas. Biasanya, pagi-pagi begini aku masuk, sore harinya
aku telah keluar dengan tangan dan baju berlumuran cat air beserta sebuah
senyum kemenangan. Senyum puas karena aku berhasil mengukir sebuah lukisan.
Yah, lukisan yang kemudian akan menjadi penghuni galeri-galeri di kota ini.
Tentu tak sulit untuk sebuah lukisan yang kuciptakan terjual dalam sebuah
pameran, kau tahu itu.
“Namamu
sudah besar, siapa yang tidak bisa melihat keindahan tiap goresan dalam
lukisanmu? Lukisanmu seolah mampu berbicara tentang dirinya sendiri. Wajar jika
pengagum karyamu ada di mana-mana,” ujarmu sore itu ketika kau menemuiku di
beranda rumah.
“Apa
kau tidak cemburu dengan pengagum-pengagumku itu?” Aku sedikit menggodamu,
membiarkan mataku menikmati garis-garis bibirmu yang khas setiap kali kau
merasa cemburu. Kau tidak akan pernah mengatakan ‘iya’. Aku tahu itu. Kau hanya
akan menatap ke dalam bola mataku seolah mencari keyakinan ucapanku di sana. Setiap
hal itu terjadi, aku tak bisa menatapmu. Aku akan membuang pandanganku ke arah
lain. Seperti kali itu, aku hanya menunduk. Menatap jari-jari kakiku yang
terkena tumpahan cat.












